D.0050 · Retensi Urin
Catatan Akademik: Panduan ini adalah alat bantu belajar mahasiswa dan perawat. Isi kamus masih dilengkapi dan belum diverifikasi penuh terhadap buku resmi; untuk dokumentasi rekam medis resmi, selalu rujuk buku standar DPP PPNI (SDKI, SLKI, SIKI) dan SPO institusi.
Rincian diagnosis ini sedang dilengkapi. Luaran SLKI dan intervensi SIKI utama di bawah sudah tertaut.
Luaran Keperawatan (SLKI): Eliminasi Urin (L.04034) · Ekspektasi: Membaik
| Kriteria Hasil (Indikator SLKI) | Arah target |
|---|---|
| Sensasi berkemih | ↑ Meningkat |
| Desakan berkemih (urgensi) & distensi kandung kemih | ↓ Menurun |
| Berkemih tidak tuntas (hesitancy) & volume residu urin | ↓ Menurun |
| Urin menetes (dribbling), nokturia, & mengompol | ↓ Menurun |
| Disuria & anuria | ↓ Menurun |
| Frekuensi BAK & karakteristik urin | ↗ Membaik |
Rumusan Tujuan & Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka Eliminasi Urin (L.04034) membaik, dengan kriteria hasil: Sensasi berkemih meningkat, Desakan berkemih (urgensi) & distensi kandung kemih menurun, Berkemih tidak tuntas (hesitancy) & volume residu urin menurun, Urin menetes (dribbling), nokturia, & mengompol menurun, Disuria & anuria menurun, Frekuensi BAK & karakteristik urin membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Kateterisasi Urin (I.04145)
Buka halaman intervensi I.04145 →
Definisi SIKI: Memasukkan selang kateter melalui uretra ke dalam kandung kemih untuk mengeluarkan urin.
1. Observasi (O)
- Periksa kondisi pasien (kesadaran, tanda-tanda vital, daerah perineal, distensi kandung kemih, inkontinensia urin, refleks berkemih)
- Identifikasi indikasi pemasangan kateter menetap (retensi urin akut, pemantauan produksi urin ketat pada pasien kritis, operasi urologi/panggul, luka tekan derajat III/IV di area sakrum pada pasien inkontinensia) serta kontraindikasi (trauma uretra: darah di meatus uretra, hematoma skrotum/perineum)
2. Terapeutik (T)
- Siapkan peralatan steril, ukuran kateter terkecil yang adekuat (14–16 Fr untuk dewasa), dan jaga privasi pasien
- Pasang sarung tangan bersih dan bersihkan daerah perineal/meatus uretra dengan cairan antiseptik/air sabun
- Ganti sarung tangan steril, pasang duk bolong steril, dan lumasi ujung kateter 2,5–5 cm (wanita) atau masukkan jeli anestesi ke uretra 15–17,5 cm (pria)
- Masukkan kateter secara lembut melalui meatus uretra hingga urin mengalir keluar, lalu majukan lagi 2–5 cm
- Kembangkan balon fiksasi menggunakan Aqua Bidest steril sesuai volume yang tertera pada kateter (jangan gunakan NaCl 0,9% karena dapat mengkristal), lalu tarik perlahan hingga terasa tahanan
- Sambungkan kateter ke kantong urin tertutup (urobag), fiksasi kateter di paha bagian dalam (wanita) atau perut bawah/paha atas (pria), dan gantung urobag lebih rendah dari kandung kemih tanpa menyentuh lantai
3. Edukasi (E)
- Jelaskan tujuan dan prosedur pemasangan kateter urin
- Anjurkan pasien menarik napas dalam dan rileks saat kateter dimasukkan untuk merelaksasikan sfingter uretra
4. Kolaborasi (K)
- Kolaborasi dengan dokter bila ditemukan striktur atau tahanan keras saat insersi kateter (jangan dipaksakan)
Susun askep dengan AI
Punya skenario kasus fiktif? Buka Asisten AI dengan mode Askep 3S yang sudah terpilih, lalu tulis kasusnya.
Referensi
- PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
- PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
- PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.