D.0001 · Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Catatan Akademik: Panduan ini adalah alat bantu belajar mahasiswa dan perawat. Isi kamus masih dilengkapi dan belum diverifikasi penuh terhadap buku resmi; untuk dokumentasi rekam medis resmi, selalu rujuk buku standar DPP PPNI (SDKI, SLKI, SIKI) dan SPO institusi.
Definisi SDKI: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.
Penyebab / Faktor Risiko (SDKI)
- Spasme jalan napas
- Hipersekresi jalan napas
- Disfungsi neuromuskuler
- Benda asing dalam jalan napas
- Adanya jalan napas buatan
- Sekresi yang tertahan
- Hiperplasia dinding jalan napas
- Proses infeksi
- Respon alergi
- Efek agen farmakologis
Gejala & Tanda Mayor (SDKI)
Subjektif:
- (Tidak tersedia)
Objektif:
- Batuk tidak efektif
- Tidak mampu batuk
- Sputum berlebih
- Mengi, wheezing dan/atau ronkhi kering
- Mekonium di jalan napas (pada neonatus)
Gejala & Tanda Minor (SDKI)
Subjektif:
- Dispnea
- Sulit bicara
- Ortopnea
Objektif:
- Gelisah
- Sianosis
- Bunyi napas menurun
- Frekuensi napas berubah
- Pola napas berubah
Luaran Keperawatan (SLKI): Bersihan Jalan Napas (L.01001) · Ekspektasi: Meningkat
| Kriteria Hasil (Indikator SLKI) | Arah target |
|---|---|
| Batuk efektif | ↑ Meningkat |
| Produksi sputum | ↓ Menurun |
| Mengi / wheezing & ronkhi | ↓ Menurun |
| Dispnea & ortopnea | ↓ Menurun |
| Gelisah & sianosis | ↓ Menurun |
| Frekuensi napas | ↗ Membaik |
| Pola napas | ↗ Membaik |
Rumusan Tujuan & Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka Bersihan Jalan Napas (L.01001) meningkat, dengan kriteria hasil: Batuk efektif meningkat, Produksi sputum menurun, Mengi / wheezing & ronkhi menurun, Dispnea & ortopnea menurun, Gelisah & sianosis menurun, Frekuensi napas membaik, Pola napas membaik.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Jalan Napas (I.01011)
Buka halaman intervensi I.01011 →
Definisi SIKI: Mengidentifikasi dan mengelola kepatenan jalan napas.
1. Observasi (O)
- Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
- Monitor bunyi napas tambahan (gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kering)
- Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
2. Terapeutik (T)
- Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (jaw-thrust jika curiga trauma servikal)
- Posisikan semi-Fowler atau Fowler
- Berikan minum hangat
- Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
- Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
- Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal
- Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill
- Berikan oksigen, jika perlu
3. Edukasi (E)
- Anjurkan asupan cairan 2000 mL/hari, jika tidak kontraindikasi
- Ajarkan teknik batuk efektif
4. Kolaborasi (K)
- Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu
Susun askep dengan AI
Punya skenario kasus fiktif? Buka Asisten AI dengan mode Askep 3S yang sudah terpilih, lalu tulis kasusnya.
Referensi
- PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
- PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
- PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.